top of page

WEBINAR KELUARGA: “PAHIT MANIS THE CORONA DALAM KOMUNIKASI KELUARGA”

Acara webinar yang diadakan oleh Seksi Kerasulan Keluarga Paroki Pademangan pada

tanggal 08 Mei 2021 secara virtual zoom. Dengan pembicara: Dr.Theresia Indira Shanti Psi, M. si psikoterapis, akrab dipanggil : Mbak Shanti.


Mengawali webinar ini, Mbak Shanti memberikan gambaran bagaimana agar kita bisa menjadi berkat memberi, bagaimana supaya ringan dan gembira dalam memberi, khususnya dalam keluarga.


Perbedaan yang ada seringkali menjadi hambatan dalam memberi, perbedaan itu seperti :

1. Perbedaan bahasa cinta, dalam mengungkapkan rasa sayang/kasih berbeda-beda, misalnya : ungkapan sayang kepada anak laki-laki dan anak perempuan berbeda jika mereka sudah mulai beranjak remaja.

2. Perbedaan kebiasaan, masing-masing anggota keluarga memiliki perbedaan yang tentu saja jika tidak kita pahami, akan menjadi konflik dalam keluarga.

3. Perbedaan kemampuan, seorang Ibu dapat melakukan banyak hal dalam satu waktu, misalnya : seorang Ibu yang sedang masak, bisa sambil menyapu, bisa sambil urus anak, bisa sambil buka handphone atau yang lainnya. Sedangkan seorang Bapak (suami) akan fokus hanya pada satu pekerjaan saja, sulit bagi seorang Bapak untuk melakukan banyak hal dalam satu waktu.

4. Ada harapan yang tidak terpenuhi, rasa kecewa.

5. Ada kebutuhan yang tidak terpenuhi, merasa kurang dihargai, tidak dicintai, tidak aman, ada rasa sakit hati.


Kelima hal ini jika dibiarkan akan menjadi masalah besar, terlebih jika kita lebih fokus pada kebutuhan diri sendiri, hal ini menjadi hambatan besar dalam komunikasi keluarga. Hal-hal kecil bisa menjadi hal besar yang jika dibiarkan akan menjauhkan anggota keluarga.

Hendaknya kita segera menyadari, bahwa ada perbedaan, perbedaan adalah keunikan masing-masing pribadi, ada perbedaan kemampuan maka hal perbedaan ini kita harus pahami. Keluarga itu adalah suatu sistem, seperti sistem pencernaan mulai dari mulut, kerongkongan sampai ke usus, ketika ada suatu yang sakit dalam sistem pencernaan, maka seluruhnya akan terganggu.


Begitu juga dalam keluarga, jika ada anggota keluarga yang sakit hati, tentu saja akan berpengaruh pada interaksi dan komunikasi dalam keluarga. Selain kita harus belajar memahami satu sama lain, kita juga harus bisa belajar bersama saling memulihkan, agar komunikasi dapat berjalan dengan baik maka dibutuhkan kepedulian diri kita masing-masing, kita belajar bersama-sama, melakukan banyak aktivitas bersama-sama, saling mengingatkan, saling melengkapi ini menjadi upaya yang baik dalam membangun komunikasi keluarga.


Ketika kita sudah menjalankan hal ini secara rutin dan terus menerus, maka keluarga semakin hidup, mampu berbagi dengan ringan hati, karena tidak lagi fokus pada diri sendiri.

Membangun dan merawat keluarga, melalui upaya membangun sifat/pemikiran positif, memahami satu sama lain apa yang menjadi kebutuhan, selalu berusaha menular kan energi positif bagi semua anggota keluarga.


Keluarga ibarat Rumah yang butuh dirawat setiap saat, kita harus membiasakan diri kita untuk selalu terbuka satu sama lain, mendengarkan pendapat, memahami apa pun yang sedang dialami oleh anggota keluarga.


Masa pandemi ini, membuat kita semua menyesuaikan diri dengan keadaan, kita harus mau berubah. Harus memiliki rasa syukur yang tak ada habisnya; melakukan doa bersama, kegiatan bersama walaupun harus secara virtual. Berubah, belajar menyesuaikan diri mau mencoba hal baru yang mampu membuat diri kita selalu bersyukur dan berpikir positif ini adalah proses pembelajaran yang harus kita lewati bersama. Jika hal ini berhasil kita lakukan, maka keluarga kita menjadi keluarga yang tangguh.

Di masa pandemi sangat mengajarkan kita banyak hal baru, sudah seharusnya hal-hal positif dan kebiasaan-kebiasaan baru yang mampu menjadikan diri kita kuat dalam memaknai proses belajar Agar komunikasi tidak ada kebuntuan, enggan atau malas dalam berkomunikasi penyebabnya biasanya karena ada kejadian sebelumnya (proses belajar sebelumnya). Seringkali ada kejadian yang menjadikan persepsi negatif dalam benak kita. Maka jika terjadi kebuntuan dalam komunikasi, menenangkan diri terlebih dahulu kemudian dibicarakan baik-baik demi kesamaan persepsi sehingga komunikasi bisa lancar kembali.


Romo Antonius Dwi Cahyono, SVD menambahkan: memang komunikasi adalah sesuatu yang penting, memang kita harus terus menerus belajar mengenali siapa sesama kita. Panggilan kita adalah untuk mencintai, mencintai Tuhan dan mencintai sesama dengan mencintai sesama maka kita mencintai Tuhan.


Sesama kita yang terdekat adalah keluarga, sehingga kita harus bisa mencintai keluarga kita terlebih dahulu dengan beraneka ragam perbedaan, pemahaman yang harus terus ada dalam diri kita, ungkapan cinta atau komunikasi tidak melulu melalui bahasa lisan tetapi bahasa tubuh pun menjadi suatu tanda yang perlu kita pahami ketika kita berhadapan dengan sesama.


Kualitas komunikasi menjadi hal terpenting agar komunikasi antar anggota keluarga dapat tercipta dengan baik. Masa pandemi ini kita harus belajar untuk merenung, memahami kembali relasi-relasi dengan pasangan atau dengan anak-anak, agar kita semakin mampu memahami sesama, sehingga kita dapat mengasihi dengan tulus hati dan komunikasi dalam keluarga dapat tercipta dengan baik.

14 views0 comments

Recent Posts

See All

Comments


bottom of page