top of page

DIBAPTIS DAN DIUTUS: GEREJA KRISTUS DALAM MISI DI DUNIA



Hari Minggu Misi sedunia ke 93 Tahun 2019, jatuh pada tanggal 20 Oktober. Hari Minggu Minggu Misi sedunia dilembagakan oleh Paus Pius XI pada tahun 1926, dirayakan setiap tahunnya pada hari minggu kedua dari terakhir bulan Oktober. Maksud hari Minggu Misi Sedunia yaitu mendorong warga gereja Katolik sedunia “untuk berdoa, bekerjasama dan menggalang bantuan untuk misi serta mengingatkan semua orang Kristen tentang karekter dasar misionaris gereja dan setiap orang yang sudah dibaptis”. Kita semua dipanggil untuk menjadi misionaris. Kita menerima panggilan itu pada saat kita dibaptis.

Kita semua adalah misionaris dalam arti yang sesungguhnya setelah menerima sakramen baptisan. Kita menerima utusan yang sama untuk menjadi saksi Kristus dalam kehidupan nyata setiap hari. Tugas misi yang kita emban yaitu menghidupi panggilan iman dengan aksi konkrit. Aksi konkrit itu pertama-tama kita hadirkan di tengah keluarga. Rumah kita harus menjadi tempat pertama dan utama untuk bermisi. Caranya dengan menghidupi cinta dan kebaikan Tuhan. Kita menghidupi janji iman serta nilai-nilai injili lainnya. Kita adalah pelaku misi, lewat kata dan tindakan nyata.

Rahmat misi dan panggilan untuk menjadi misionaris yang sudah kita terima waktu baptisan adalah serentak sebagai sebuah hadiah cuma-cuma dari Allah dan sebagai tanggungjawab (bdk Mt 10:8). Pertama: Sebagai hadiah cuma-cuma. Hadiah itu harus kita bagikan dengan sesama. Dengan membaginya berarti juga mengandakannya melalui kata dan tindakan nyata. Seluruh keberadaan kita hendaknya menjadi pewartaan tentang kebaikan Kristus. Semoga melalui kehadiran dan perjumpaan dengan kita; orang lain bisa mengalami kehadiran Allah. Kedua: Sebagai tanggungjawab. Kita semua diajak untuk menjadi penyalur berkat, menjadi channel yang memperpanjang kasih dan kebaikan Allah.

Bulan Oktober tahun ini sebagaimana dicanangkan oleh Paus Fransiskus sebagai “bulan misi luar biasa” mengenang 100 tahun diumumkannya surat Apostolik Maximum Illud oleh Paus Benediktus XV pada 30 November 1919. Isinya tentang karya misi dan mengingatkan semua orang yang sudah dibaptis untuk menjadi rasul, menjadi misionaris. Sumber inspirasinya adalah Injil Markus 16:15: “Pergilah ke seluruh dunia dan wartakanlah kabar baik ke seluruh makluk”. Dalam versi Matius lebih lengkap lagi disampaikan kepada para murid: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, dan ajarilah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” (Mat 28:19-20)

Iman kita memiliki dimensi misi. Kita bersatu dengan Yesus: hidup, sengsara dan kebangkitanNya. Persatuan itu kita terima melalui sakramen pembaptisan. Serentak pada saat yang sama kita diangkat menjadi putra-puteri Allah. Kita secara bersama-sama mengusahakan kebaikan bersama. Misi Kristus harus dilaksanakan secara bersama-sama untuk mempercepat terwujudnya dunia yang lebih berwajah manusiawi. Wajah manusiawi dunia ini dirusaki oleh dosa. Misalnya oleh naluri “homo homini lupus” manusia menjadi srigala untuk sesamanya. Manusia saling meniadakan dan memangsa. Belakangan ini, kesan itu agak kental mewarnai kebersamaan kita sebagai sebuah bangsa yang berkarakter pluralistik - hetrogen. Ada-ada saja usaha dari orang per orangan dan kelompok yang mau merusak keutuhan bangsa dengan cara-cara yang merendahkan martabat manusia. Syukur, bahwa negara selalu bisa mengantisipasi dan menjaga keutuhan bangsa dengan semangat pantang menyerah. Kita harus bersatu untuk mewujudkan kebaikan dan kesejahteraan bersama. Kita harus bahu membahu untuk mewujudkan bangsa yang bermartabat.

Bukan kebetulan hari Minggu Misi sedunia 2019 ini bertepatan dengan pelantikan Presiden Repubelik Indonesia Joko Widodo – Ma’ruf Amin. Tetapi ada satu pesan moral di baliknya yaitu kita semua dipanggil untuk berdoa, bekerjasama dan memberikan bantuan sesuai dengan situasi-kondisi kita masing-masing untuk menjaga keutuhan NKRI, meningkatnya semangat persatuan dan persaudaraan sejati sebangsa-setanah air, serta memajukan kesejahteraan, menjunjungtinggi harkat dan martabat setiap orang sebagai putra-putri Allah yang merdeka dan berdaulat. Kita semua dari Sabang – Merauke adalah saudara. Kita banyak wajah satu hati. Kita menghuni rumah yang sama Indonesia. Tugas semua anak bangsa untuk menghidupi nilai-nilai luhur Bhineka Tungga Ika dan Pancasila. Inilah tantangan misi dalam konteks Indonesia yang pluralistik ini.

“Kesucian hidup sangatlah perlu. Untuk mewartakan Allah kita harus menjadi manusia milik Allah. Untuk mengajak orang lain membenci kejahatan, kita sendiri harus (terlebih dahulu) membenci kejahatan. Khususnya terhadap orang tidak beriman, di mana mereka digerakkan lebih oleh naluri ketimbang akalbudi, berkotbah dengan teladan lebih manjur daripada dengan kata-kata… (MI no. 26)


186 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page