top of page

MEMAKNAI NATAL: MEMBAGI KASIH ALLAH KEPADA SESAMA

Yesaya 9: 1- 6; Titus 2: 11-14; Lukas 2:1-14


Kita semua bergembira karena Yesus sudah datang. Ia sudah lahir 2000-an tahun lalu di Betlehem dan kini - di sini, Ia lahir kembali di hatimu dan hatiku. Hati kita semua adalah kandang abadi buat tempat tinggal Yesus. Karena itu mari kita merawat hati, menjaga pikiran agar selalu dipenuhi dengan sukacita dan damai. Ada banyak “perampok hati dan pikiran yang damai” seperti perselisihan, ingkar janji, komunikasi yang putus, hobi yang menyimpang, kesengangan yang merugikan diri sendiri dan sesama, egois dan masih banyak lagi deretan perampok kedamaian hati dan pikiran yang bisa kita tambahkan sendiri sesuai dengan konteks yang kita alami. Semoga kita sanggup melawan dan menerjang perampok kedamaian hati dan pikiran yang kita alami dengan kehadiran Sang Emanuel, Allah yang beserta kita. Dialah damai abadi, asal dan tujuan hidup kita.


Yesus sudah lahir. Ia lahir di kandang hewan yang kotor dan tengik. Coba anda hidupkan daya imaginatifmu, tentang sebuah kandang hewan seperti kandang kerbau, kuda, atau juga kandang ternak lainnya. Yesus dalam tradisi Kitab Suci diceritakan Ia lahir di kandang domba. Coba bayangkan! Domba mempunyai karakter yang mirip dengan kambing, kandangnya selalu tengik. Kenapa Yesus dilahirkan di sana?


Allah mau solider dengan manusia yang kotor – miskin.

Manusia menjadi kotor bukan karena jarang mandi fisiknya. Tetapi manusia menjadi kotor karena sikap, tutur kata dan kelakuannya setiap hari. Allah mau mengangkat kembali manusia yang kotor agar kembali bersih dan bermartabat. Allah mau, kita diselamatkan dari dosa, dari kebiasaan buruk dan ketidakpedulian kita kepada mengutamakan hal yang baik dan menghindari yang jahat. Kita menjadi kotor karena kita menjadi sumber ketidakadilan dan bahkan ketidakbenaran, kedamaian hilang dan kecemasan bertambah.


Allah mengangkat manusia yang terpuruk dalam kegelapan lembah dosa kembali ke martabatnya sebagai putra-putri Allah.

Manusia diangkat kembali untuk menjadi orang yang baik. Manusia terpuruk dalam dosa karena kesombongan dan keangkuhan. Manusia mengabaikan Allah sebagai sumber dan tujuan hidupnya. Ia menggantikannya, diri sendiri menjadi sumber dan tujuan segala sesautu. Kesombongan adalah jalan tol kepada keterpurukan dalam hidup. Kesombongan manusia pertama Adam – Hawa, itu yang membuat mereka diusir dari Firdaus. Kesombongan membuat kita kehilangan kedamaian jiwa dan sukacita sejati. Kesombongan membuat kita tidak dapat melihat kebaikan orang lain serentak membutakan kita untuk melihat dan merasakan kehadiran Allah melalui sesama.


Allah menggugah manusia untuk menjadi penyalur damai dan sukacita.

Tuhan mempunyai rencana agung untuk kita agar menjadi penyalur rahmatNya bukan untuk menjadi penghambat kasih Allah untuk sampai kepada sesama. Allah mau menegaskan bahwa semua kita baik. Yang membuat kita baik adalah keselarasan hati, pikiran dan perbuatan. Bukan cuma kata, tetapi kita menghidupi hal-hal baik yang kita katakan. Yang kita nantikan itu sudah datang; mari kita menyambutnya. Natal Yesus adalah natal kita semua. Ia lahir ke dalam dunia agar kita dilahirkan kembali “menjadi anak-anak Allah” yang merdeka, yang bebas dan damai.

  1. Yesus harus lahir kembali dalam hati kita. Dialah sumber damai dan membantu kita untuk hidup bersaudara dengan yang lain.

  2. Yesus harus lahir lagi dalam keluarga kita. Karena Dialah yang membuat kita sanggup untuk saling mencintai dengan tulus, saling pengertian , saling memaafkan dan mendengarkan.

  3. Yesus harus lahir kembali di tempat kerja kita: agar kita menjadi penyalur rahmat untuk sesame.

Yang membuat Yesus tidak memilih hati kita sebagai tempat kelahirannya: Jembatan yang putus.
  1. Kita adalah jembatan penghubung kasih Allah dengan sesama. Kita membawa kasihNya agar sampai ke orang lain, terutama untuk mereka yang belum mengenalNya atau yang sudah tidak mempedulikanNya lagi. Dalam kenyataan tidak semua orang katolik sanggup untuk menjadi jembatan kasih yang baik. Kadang rahmat Allah itu berhenti, setelah sampai pada kita. Kita tidak mau meluangkan sedikit waktu, walau kita ada kesempatan untuk membagi kasih itu dengan orang lain, terutama dengan mereka yang sangat membutuhkan bantuan atau pertolongan. Orang membutuhkan pertolongan tidak selamanya dengan uang /materi. Banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan teman untuk bercerita, berdiskusi atau membagi tantangan kehidupan. Orang ada kalanya hanya mau didengarkan, itu sudah lebih dari materi apa pun untuknya.

  2. Jembatan itu putus karena egoisme kita yang berlebihan, maunya hanya saya saja. Diri sendiri menjadi pusat untuk segala-galanya.

  3. Hilangannya semangat kerendahan hati / kesombongan, juga menjadi penyebab terputusnya penyaluran kasih Allah kepada sesama.

  4. Berpikir negatif baik tentang diri sendiri maupun orang lain. Pikiran negatif menjadi penghambat yang paling bengis dalam membagi kebaikan Allah kepada sesama. Inilah penghambat dan pembunuh kemajuan, perubahan serta kreatifitas dalam kehidupan bersama. Pertanyaan yang menggugat kesadaran iman kita: adakah selama ini, saya menjadi jembatan kasih Allah atau jurang pemisah yang menghalangi kasih Allah sampai kepada sesama?

  5. Hati yang gelisah: terlalu banyak kecemasan. Kita cemas tentang banyak hal, yang kadang tidak jelas untuk apa sebenarnya kita mencemaskan hal-hal itu. Kecemasan yang tidak jelas erat sekali hubungannya dengan ketakutan tanpa obyek yang jelas. Manusia menjadi takut dengan bayangan sendiri. Cerita tentang takut banyang sendiri….


Kita adalah sarana agar orang merasa aman untuk sampai kepada Yesus.

Orang mengenal Yesus umumnya karena orang lain, bisa saja anggota keluarga, teman atau kenalan. Saya mengenal Kristus, pertama-tama karena orangtuaku yang juga adalah Katolik. Mereka dibesarkan dalam budaya kekatolikan. Sejak kecil, saya sudah dibiasakan dengan nilai-nilai kekatolikan, cinta, perhatian, teguran kasih dan juga kadang teguran tegas supaya tetap ingat akan “nilai-nilai” kebaikan yang menjadi roh perekat dan peneguh kekatolikan. Karena itu, kalau kita tidak bisa membuat orang merasa aman agar bertemu dengan Yesus maka kita menjadi penghalang, penghambat atau yang ikut mematikan kerinduan orang untuk mengenal dan sampai kepada Yesus.


Misalnya ada banyak keluarga katolik, yang tidak semuanya menghidupi imannya, atau tidak memberikan contoh yang baik untuk anggota keluarganya. Tidak semua keluarga katolik walau tidak ada halangan yang mendesak, tetapi mereka tidak mendampingi putra-putri mereka untuk datang ke gereja mengikuti perayaan iman. Bimbingan, tuntunan dari orangtua sangat dibutuhkan oleh anak-anak, terutama yang masih usia sekolah (TK – SMA).


Tema Natal KWI dan PGI tahun 2019 yaitu

“Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang”
(bdk 15:14-15”.)

Sejatinya setiap orang harus menjadi sahabat dari semua dan untuk semua. Menjadi sahabat adalah sebuah panggilan aktif agar kita meniru semangat Yesus yang menjadi sahabat untuk semua orang: yang lemah, yang sakit, yang miskin, yang tertindas dan terpinggirkan. Yesus dalam karyaNya menjadi pembawa dan penyebab sukacita abadi: yang sakit disembuhkan, yang lumpuh berjalan, yang buta melihat, yang tuli mendengar dan yang terpenjarakan dibebaskan. Kita semua diajak untuk menjadi pelaku dan pembawa damai mulai dari keluarga kita masing-masing, di tempat kerja dan di mana saja kita berada.


Kita menjadi sahabat yang baik bisa dengan cara: menjadi pendengar yang baik untuk sesama yang mengalami kesulitan, menjadi motivator yang baik untuk orang yang kehilangan harapan agar kembali optimis, menjadi penolong yang baik untuk orang membutuhkan bantuan. Pertolongan kita bukan pertama-tama yang bersifat materi tetapi seperti hal-hal di atas tadi. Kita membagi berkat yang telah kita terima dengan orang lain, agar berkat itu semakin bertambah. Kalau kita membagi materi, semakin dibagi dia akan semakin habis.

Kita menjadi sahabat bagi semua berarti kita bersahabat lintas suku, bahasa, umur, gender, pekerjaan, tempat tinggal dan bahkan agama. Juga kita diajak untuk terbuka dan bisa bekerjasama dengan siapa saja seperti lintas seksi, kelompok kategorial, lingkungan dan wilayah; juga bekerjasama dengan lintas profesi dan pekerjaan. Kita menjadi sahabat untuk semua yang menampakan wajah Allah yang Maharahim, menghidupkan cinta Allah yang menyelamatkan dan terbuka untuk semua orang. Natal Tuhan adalah natalmu dan natalku juga untuk menjadi sahabat bagi semua orang.


SELAMAT PESTA NATAL: SEMOGA DAMAI KRISTUS MEMENUHI HATI KITA SEMUA!

Homili malam Natal 2019

Oleh Pater Gregorius Sasar Harapan, SVD

Pastor Paroki Pademangan

252 views0 comments

Recent Posts

See All

Edisi: XIII / 2020 / HARI MINGGU PRAPASKAH V

KEMATIAN (BENCANA) REALITAS YANG TIDAK BISA DITOLAK Wabah Corona, menggemparkan dunia. Awalnya bermula dari Wuhan, China. Lalu sekarang ia menyebar dan mewabah ke seluruh dunia. Indonesia juga termasu

Comments


bottom of page