top of page

WASPADALAH AGAR JANGAN TERSESAT

Minggu Biasa XXXIII Tahun C 2019

Maleakhi 4: 1-2a; 2Tesalonika 3:7-12; Lukas 21:5-19


Menjelang hari-hari terakhir dalam tahun liturgi, bacaan Kitab Suci yang dipilih Gereja mengingatkan kita akan akhir zaman. Hari penghakiman itu akan datang. Orang yang hidupnya sesuai dengan hati nurani akan diselamatkan sedangkan yang mengingkari nuraninya akan dihukum dalam tanur api. Untuk saya, yang menghukum diri kita dalam arti yang sesungguhnya adalah kita sendiri. Itu terjadi oleh apa yang kita lakukan dan katakan dalam kehidupan setiap hari. Kalau kita selalu melakukan yang benar dan baik pasti kebahagian dan sukacita kekal yang akan kita terima. Tetapi kalau kita melakukan hal yang sebaliknya maka penderitaan dan kesengsaraan kekallah yang akan kita alami.



Kitab Maleakhi mengisahkan situasi 50 tahun sesudah bangsa Israel pulang dari pembuangan Babel. Keseharian bangsa Israel waktu itu diwarnai oleh kekecewaan yang menumpuk, diperparah oleh kemerosotan moral dan iman yang hebat. Kemerosotan itu menimpa pemimpin agama dan juga umat. Semua menjadi serba kacau. Kehidupan tidak menentu. Dalam situasi yang serba susah ini, Maleakhi muncul menyeruhkan “lihatlah hari Tuhan datang”. Dia akan memusnakan orang-orang jahat dengan api dan menyinari orang yang beriman dengan sinar matahariNya.


Tuhan adalah matahari sejati. Dia menerangi hidup kita. Dia berbaik hati kepada semua orang. Ia memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk bertobat, agar bisa mengalami keselamatan. Cinta Tuhan itu terbuka kepada siapa saja. Seperti Ia menerbitkan matahari dan menurunkan hujan bagi semua orang. Dalam kenyataan, manusia sendirilah yang menolak cinta Allah, dengan mengingkari dan mengkianatiNya lewat kata dan perbuatan yang dilakukan setiap hari.


Kita bisa keluar dari kelemahan “dosa” kalau kita selalu mengatakan itu kepada diri sendiri dan mencoba untuk mulai meninggalkannya. Coba, coba dan coba sekali lagi untuk menghindarinya. Setiap percobaan yang disertai dengan kemauan yang kuat untuk berhenti dan memulai sesuatu yang baik pasti akan membuahkan hasil. Mencoba adalah langkah pertama untuk kita keluar dari kesulitan, tantangan atau dosa. Kita bisa, kenapa tidak? Coba sekarang, jangan menunda. Kesempatan itu, biasanya tidak datang dua kali. Sekali kesempatan itu dilewatkan, maka ia tidak pernah akan kembali.


Kesaksian Paulus. “barangsiapa tidak mau bekerja, jangan makan”

(2Tes 3:7-12)

Paulus mempunyai daya sentuhan magnetis yang membuat para sahabatnya selalu berusaha untuk melakukan yang baik dan menghindari yang jahat. Paulus meyakinkan orang yang pernah ia kenal dengan kata dan perbuatan yang ia sendiri pernah lakukan. Ia meyakinkan orang dengan cara hidupnya sendiri. Paulus berbicara apa adanya tentang kenyataan yang ia hadapi. Melihat orang yang tidak tertib hidupnya, ia menasihatkan mereka sebagai saudara agar orang-orang itu kembali menjadi baik. Paulus menghidupkan kembali memori posetif masa lalu; ingat kembali masa lalu, menyadari kenyataan sekarang dan melihat ke depan, apa yang akan terjadi.


Metode seperti ini, sekarang banyak dipakai untuk proses pemberdayaan potensi yang dimiliki oleh setiap orang untuk menjadi seorang yang sukses. Menjadi seorang yang sukses adalah sebuah proses. Ia tidak terjadi secara instant. Ia melalui tahapan panjang dalam hidup seseorang. Mari kita kembali berbenah diri dengan menggunakan semua potensi yang kita miliki agar yang terbaik itu yang terjadi. Dalam konteks ini, Paulus sungguh benar di saat ia mengatakan “siapa yang tidak bekerja, ia jangan makan” atau “orang harus makan dari apa yang dia sendiri kerjakan”. Lalu, selama ini anda makan apa dan dari siapa? Makan dari yang anda sendiri kerjakan atau dari kerja keras orang lain? Semoga kita makan dari jerih payah kita sendiri.


Menjelang akhir tahun liturgi gerejani, teks Kitab Suci yang kita dengar, diwarnai dengan peringatan, seperti yang kita dengar (baca) dalam Lukas 21:5-19, hari ini. Peringatan itu berhubungan dengan komitmen untuk mencintai Yesus secara penuh dalam kata dan perbuatan. Dalam hidup akan ada banyak tantangan, itu pasti; akan terjadi banyak kesulitan, itu kenyataan. Yang perlu kita miliki dalam menghadapi situasi seperti ini adalah “kewaspadaan”. Yesus mengingatkan pendengarNya, “waspadalah agar kamu jangan disesatkan” (bdk Luk 21:5-19). Ketersesatan itu bisa muncul dalam banyak rupa. Ada yang berhubungan dengan ajaran, ideologi, cara pandang atau prinsip hidup. Ada juga yang berhubungan dengan pekerjaan, kebiasaan, sikap dan tutur kata.

Ketersesatan artinya, kita menyimpang dari jalan yang mestinya kita lalui; kita melakukan lain dari apa yang semestinya kita harus lakukan, kita berbicara lain dari apa yang mestinya kita katakan. Penyimpangan itu terjadi karena:

1. “Kelalaian” dalam mengontrol diri dan hilangnya kesadaran akan akibat buruk dari apa yang kita lakukan.
2. Permisif. Sikap memaafkan diri sendiri terhadap apa yang sudah dilakukan. Di saat sikap permisif itu terjadi, kita biasanya katakan cukup sekali ini; hanya untuk mencoba saja; hanya sekedar untuk tahu seperti apa rasanya tentang sesuatu. Bisa ada sederetan panjang alasan yang membuat seseorang memaafkan dirinya, dalam perlakukan menyimpang yang dia sendiri menjadi aktor utamanya. Sikap permisif menjadi awal kehancuran dan keterpurukan dalam hidup seseorang. Hal ini berlaku untuk semua kategori kejahatan dan prilaku buruk dalam hidup, baik yang berhubungan dengan “kekuasaan, kekayaan ataupun kenikmatan”. Di saat hedonisme menjadi sesuatu yang utama dalam hidup, maka seseorang sudah mulai menguburkan dirinya dalam lumpur busuk, permisif.
3. Kealpaan hati nurani. Seseorang tidak memberi tempat untuk membiarkan hati nurani membuat pertimbangan yang jernih atas apa yang akan diakukan atau dikatakan.
4. Mengabaikan “Allah yang diam dalam hati kita”. Hati kita adalah kenisah Roh Kudus, bait Allah, tempat Allah bersemayam. Kalau Allah kita abaikan maka seteruNya yang akan mengambil alih kendali hidup kita yaitu iblis. Ingat apa yang dikatakan iblis, saat ia tidak berhasil mencobai Yesus, “aku akan mencari kesempatan yang baik” untuk kembali lagi.

Iblis itu kembali setiap saat dalam hidup kita, bahkan setiap menit dia kembali, mengecek apakah kita terjaga atau terlena. Di kala kita terlena, dia memanfaatkan kesempatan itu secara maksimal agar kita membelot dari pertimbangan jernih nurani kita, ke jalannya. Waspadalah selalu.


64 views0 comments

Recent Posts

See All

Edisi: XIII / 2020 / HARI MINGGU PRAPASKAH V

KEMATIAN (BENCANA) REALITAS YANG TIDAK BISA DITOLAK Wabah Corona, menggemparkan dunia. Awalnya bermula dari Wuhan, China. Lalu sekarang ia menyebar dan mewabah ke seluruh dunia. Indonesia juga termasu

Comments


bottom of page