top of page

MENANTI KEDATANGAN TUHAN DENGAN HATI YANG BERTOBAT

Minggu 1 Advent A, 2019

Yesaya 2:1-5; Roma 13:11-14, Matius 24: 37-44



Hari ini, kita memasuki masa advent. Inilah saatnya untuk kita, agar kembali mengevaluasi diri, menata kembali perjalanan hidup, supaya tetap berlangkah di jalan yang benar. Advent menjadi moment berahmat untuk kembali memberikan tempat bagi Tuhan dalam hidup. Kadang dalam kenyataan harian, kita menjadi seorang theist ideologis. Kita percaya akan Tuhan secara teori tetapi dalam kenyataan mengingkarinya melalui cara hidup, tutur kata dan sikap. Di kala kita mengingkari Tuhan serentak pada saat itu kedamaian hidup mulai hilang, kecemasan mulai muncul dan ketakutan mulai terasakan. Hidup yang tidak dievaluasi, adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi.

Hari ini, 1Yesaya menemani kita agar selalu memperjuangkan kedamaian dalam hidup, walau banyak tantangan yang bakal dialami. Supaya kedamaian menjadi milik kita, 2Paulus mengajak agar meninggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan berjalan dalam terang. Kalau kita betul menghendaki kedamaian dan mau berjalan dalam terang maka 3perlu suatu sikap spiritual yang baik yaitu berjaga-jaga, waspada dan siap sedia kapan dan di mana saja, sebab Tuhan datang seperti pencuri. Adakah kita sudah hidup dalam damai, sudah meninggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan berjaga-jaga? Inilah saatnya untuk mulai atau memperbaharuinya.

Seruan Yesaya

‘Yesaya anak Amos. Amos senantiasa membela kepentingan sosial. Ia digelar sebagai nabi keadilan sosial. Mari kita naik ke gunung Tuhan, ke rumah Allah Yakub supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalanNya. Mari berjalan dalam terang Tuhan’ (bdk Yes 2:1-5). Yesaya merindukan kedamaian, yang akan datang pada saat terakhir. Saat akhir dalam konteks Yesaya yaitu saat Allah menyatakan diriNya. Saat akhir itu, bukan sebuah garis waktu seperti A-Z, tetapi sebuah situasi di mana orang menyiapkan tempat bagi Allah dalam hidupnya. Situasi di mana “ada damai” di saat itulah Allah datang, Ia hadir dan membuat orang hidup dalam kepenuhan. Pada situasi itu manusia akan menyadari keberadaannya sebagai ciptaan Allah dan tujuan hidupnya adalah kembali bersatu dengan Allah. Karena itu, kedamaian mestinya diciptakan dan diperjuangkan dari saat ke saat. Kedamaian mudah sekali hilang kalau tidak dijaga dan disyukuri dalam hidup. Kehancuran terjadi karena hilangnya kedamaian. Percecokan, pertikaian, permusuhan, tidak memaafkan sesama terjadi karena musnanya kedamaian dalam hidup. Kedamaian itu lahir dari sebuah hati yang selalu melihat yang lain secara posetif. Yang lain itu bisa saja orang, lingkungan atau situasi serta pengalaman yang dialami.

Di saat kita sanggup melihat sisi posetif dari yang lain, yang ada, yang terjadi dalam hidup maka serentak pada saat itu seseorang bertumbuh dan menjadi orang yang selalu damai dalam hidupnya. Kedamaian itu bukan diberikan oleh orang lain atau dihadiahkan tetapi ia harus diusahakan, diperjuangkan dan bahkan butuh pengorbanan. Di kala kedamaian tercipta, semua yang kita korbankan untuknya akan hadir kembali bahkan hadir secara berlipat ganda. Jangan mencedrai kedamaian, karena bisa membuat orang binasa. Suku, daerah, bangsa: bertikai, berperang dan saling memusuhi karena hilangnya kedamaian. Kedamaian lenyap bisa terjadi awalnya karena hal-hal kecil yang diabaikan atau yang diciptakan baik sengaja maupun tidak. Hal-hal kecil itu bisa terjadi karena kesalahpahaman, ketersinggungan, kata-kata yang menyakitkan atau kelakuan yang melecehkan.

Advent mengajak kita untuk kembali menciptakan kedamaian hati, kedamaian lingkungan hidup dan keharmonisan dengan alam sekitar. Kedamaian adalah tempat untuk kerajaan Allah bertumbuh, berkembang dan kemudian menjadi milik semua orang. Kedamaian itulah yang dirindukan oleh Yesaya. Karena itu ia mengingatkan orang agar selalu mengusahakan dengan mencari dan menciptakannya. Tuhan adalah sumber kedamaian sejati. Mari kita merindukan Tuhan dalam kehidupan kita setiap hari.

Ajakan St. Paulus.

“Keselamatan kita sudah dekat. Mari kita meninggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang. Mari kita hidup dengan sopan, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Kenakanlah Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang bukan hal lain”, (bdk Rom 13:11-14). Paulus mengajak agar setiap pengikuti Kristus menyadari bahwa perbuatan-perbuatan kegelapan (pesta pora, mabuk-mabukan, hawa nafsu, perselisihan dan iri hati) harus ditinggalkan. Semua yang negatif, yang buruk, yang tidak baik harus ditinggalkan. Perbuatan kegelapan itu adalah semua hal yang membuat hidup orang tidak damai. Di saat kedamain hilang, hidup orang menjadi serba susah, penuh dengan ketakutan, kecemasan serta merasa tidak nyaman. Kedamaian menjadi hal mutlak yang harus diperjuangkan setiap orang agar hidupnya diwarnai oleh sukacita.

Hal-hal yang membuat orang tidak damai yaitu berada dalam situasi dosa seperti ketidakharmonisan dengan diri sendiri, sesama dan alam sekitar. Ketidakselarasan ini mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan. Di kala Tuhan tidak diberi tempat dalam hidup seseorang maka akan muncul banyak hal yang tidak menggembirakan terjadi. Di saat Tuhan diabaikan dalam hidup, maka perlahan-lahan hal yang negatif masuk dan mempengaruhi hidup seseorang. Banyak contoh orang menderita karena mengabaikan Tuhan: “kaum biarawan-biarawati meninggalkan hidup membiara, figure public yang korup, kaum muda yang terjeremus ke dunia hedonisme: (“zat-zat adiktif sabu, ganja, heroin; seks bebas, pencurian, perampokan, pemerkosaan, pemerasan dan penipuan”). Di saat Tuhan diabaikan, dilupakan maka orang mulai menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Agar situasi kegelapan itu tidak menguasai hidup seseorang, ia mesti membaharui hubungannya dengan Tuhan, memperbaiki hidup doa dan selalu berjuang untuk melakukan hal yang posetif dalam hidup. Cara yang efektif untuk bisa kembali memberi tempat buat Tuhan dalam hidup kita adalah BERTOBAT. Yesus mengembalikan sukacita kepada orang yang membutuhkan pertolonganNya dengan mengatakan “pergilah imanmu telah menyelamatkan engkau, jangan berbuat dosa lagi”. Singkat kata, bertobatlah.

Belajar dari pengalaman orang Israel.

Yesus mengingatkan tentang pristiwa Nuh. Air bah memusnakan segala sesuatu. Orang zaman Nuh tidak tahu bahwa malapetaka itu akan datang. Karena itu, semua dimusnakan kecuali yang ada dalam perahu Nuh. Nuh menyiapkan perahunya bukan karena air bah sudah datang. Ia menyiapkannya sebelum malapetaka itu terjadi. Nuh berjaga-jaga, karena ia percaya. Berjaga-jagalah sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Seperti tuan rumah tidak tahu kapan pencuri akan datang, (bdk Mat 24:37-44).

Waspada, siap sedia dan berjaga-jaga adalah sikap posetif yang harus dimiliki setiap orang dalam hidup. Sikap seperti ini selalu membuat orang untuk “moving forward” bergerak maju, tidak statis. Orang akan senantiasa dilengkapi dengan alert untuk menghadapi situasi baru, orang baru, tantangan dan peluang baru dalam hidup. Sikap siap sedia, membantu orang untuk selalu ada selangkah di depan, ada lebih awal semenit sebelum sesuatu terjadi.

Orang yang selalu siap sedia, dia tidak takut menghadapi hal baru dalam hidup. Ia bahkan selalu penuh perhitungan, pertimbangan dan di saat mengambil keputusan sedapat mungkin memutuskan hal yang paling kecil resiko untuk dirinya. Dengan waspada, siap sedia dan berjaga-jaga, orang dibantu untuk selalu mengambil langkah bijaksana dalam hidupnya.

Advent mengajak kita semua untuk selalu berjaga-jaga. Kita mempersiapkan jalan untuk kedatangan Tuhan dengan bertobat dan meninggalkan segala perbuatan kegelapan.


71 views0 comments

Recent Posts

See All

Edisi: XIII / 2020 / HARI MINGGU PRAPASKAH V

KEMATIAN (BENCANA) REALITAS YANG TIDAK BISA DITOLAK Wabah Corona, menggemparkan dunia. Awalnya bermula dari Wuhan, China. Lalu sekarang ia menyebar dan mewabah ke seluruh dunia. Indonesia juga termasu

Commentaires


bottom of page